Sabtu, 17 November 2012

Penalaran dalam karangan


BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Definisi Penalaran
            Bernalar yaitu proses berpikir yang menghasilkan suatu pengertian dalam pembahasan suatu masalah yang dilakukan secara logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan kesimpulan. Selain itu Penalaran penalaran dapat diartikan menghubung-hubungkan fakta atau data, menganalisis suatu topik yang menghasilkan suatu pengertian sampai dengan suatu kesimpulan.

II.2 Jenis-Jenis Penalaran
Penalaran terbagi menjadi dua yaitu:
1.      Penalaran Induktif
Penalaran Induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum. Kesimpulan ini dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas fakta yang bersifat khusus. Penalaran induktif pada dasarnya terdiri dari tiga macam: generalisasi, analogi, dan hubungan kausal.
1.      Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala yang bersifat khusus, serupa, atau sejenis yang disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum.
Contoh:
            Jika dipanaskan, besi memuai.
            Jika dipanaskan, tembaga memuai.
            Jika dipanaskan, emas memuai.
            Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Sahih atau tidak sahihnya simpulan dari generalisai itu dapat dilihat dari hal-hal berikut ini.
·         Data harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, maka sahih simpulan yang diperoleh.
·         Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang sahih.
·         Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
2.      Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:
            Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
                        Tujuan penalaran secara analogi adalah sebagai berikut.
·         Analogi dilakukan untuk meramalkan sesuatu.
·         Analogi dilakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.
·         Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
a.      Hubungan kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gekaja-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, terdapat tiga hubungan masalah yaitu sebagai berikut.
a.      Sebab-Akibat
Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B,C,D dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
Contoh:
Andaikan angin itu tiba-tiba bertiup (A), dan hujan tiba-tiba turun (B), ternyata tidak sebuah mangga pun yang jatuh (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa jatuhnya buah mangga itu disebabkan oleh lemparan anak-anak (C).
                        Pola seperti itu dapat kita lihat pada rancangan berikut.
            Angin              hujan               lemparan                      mangga jatuh
(A)                   (B)                     (C)                            (E)
Angin,             hujan                                                   mangga tidak jatuh
(A)                     (B)                                                      (E)
Oleh sebab itu, lemparan anak menyebabkan mangga jatuh
                     (C)                                    (E)
            Pola-pola seperti itu sesuai pula dengan metode agreement yang berbunyi sebagai berikut. Jika dua kasus atau lebih dalam satu gejala mempunyai satu dan hanya satu kondisi yang dapat mengakibatkan sesuatu, kondisi itu dapat diterima sebagai penyebab sesuatu tersebut.
Teh,     gula,    garam              menyebabkan kedatangan surat
(A)       (B)       (R)                                 (Y)
Gula, lada,    bawang            menyebabkan kedatangan semut
 (Q)     (S)        (U)                                 (Y)
Jadi, gula menyebabkan kedatangan semut.
         (Q)                                   (Y)
b. Akibat-Sebab
Akibat-sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
c. Akibat-Akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat dilihat sebagai berikut ini.

            Hujan              menyebabkan tanah becek
(A)                             (B)
Hujan              menyebabkan jemutran basah
(A)                              (C)
Dalam proses penalaran, “akibat-akibat”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan.
Jadi, karena tanah becek, pasti kain jemuran basah.
        (B)                                              (C)

2.      Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah proses berfikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai pembuktian khusus,dan diakhiri kesimpulan khusus yang berupa prinsip, sikap, atau fakta yang berlaku khusus. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposisi temoat menarik kesimpulan itu. Proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis. Karangan deduktif mempunyai bermacam-macam jenis berdasarkan teknik pengembangannya maupun uraian isinya. Dalam penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tidak langsung.
a.      Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan secara langsung dapat ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut simpulan taklangsung.
Misalnya:
1.      Semua S adalah P. (premis)
Semua P adalah S. (simpulan)
                                    Contoh:
                                    Semua ikan berdarah dingin. (premis)
                                    Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
3.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya (simpulan)
4.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
5.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalaah berbelalai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah tak berbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang berbelalai adalah gajah. (simpulan)
b.      Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini kana dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
a)      Silogisme kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor, dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor, dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana
Semua polisi adalah manusia
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme diatas ialah manusia term penengah hanya terdapata pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada simpulan).
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
·         Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term menengah.
Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih.
Xantipe adalaah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
                              Term minor = xantipe
                              Term mayor = harus giat berlatih
                              Term menengah = atlet
Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.
Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel di tiang.
·         Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan.
·         Dua premis yang negatif tidak dapat mengghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulat pun adalah manusia.
·         Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelelei.
Jadi, tidak seekor singa pun berbelalai.
·         Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
·         Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi.... (tidak ada simpulan)
·         Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian mahasiswa adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
·         Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi.... (tidak ada simpulan)
b)     Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor dan berproposisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konskuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konskuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
c)      Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesor.
d)     Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hany premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali orang cerdas karena dia seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
            Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.

II.3 Salah Nalar
            Gagasan, pikiran, kepercayaan dan simpulan yang salah, keliru atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal, kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar. Kalau kita pilah-pilah beberapa bentuk salah nalar itu, kita dapat membagi salah nalar itu dalam beberapa macam, yaitu sebagai berikut.
1)      Deduksi yang Salah
Salah nalar yang disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan orang. Hal ini terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari satu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat.
Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Pak Ruslan tidak dapat dipilih sebagai lurah di sini karena dia miskin
b.      Bunga anggrek sebetulnya tidak perlu dipelihara karena bunga anggrek banyak ditemukan dalam hutan.
c.       Dia pasti cepat mati karena dia menderita penyakit jantung.
2)      Generalisasi Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebebkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itusehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Gadis Bandung cantik-cantik.
b.      Kuli pelabuhan jiwanya kasar.
c.       Orang Makassar pandai berdayung.
3)      Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan “itu” atau “ini”
Beberapa contoh penalaran yang salah seperti itu adalah sebagai berikut.
a.       Engkau harus mengikuti kehendak ayah, atau engkau harus berangkat dari rumah itu.
b.      Dia membakar rumahnya agar  kejahatannya tidak diketahui orang.
c.       Engkau harus memilih antara hidup di Jakarta dengan serba kekurangan dan hidup di kampung dengan menanggung malu.
4)      Penyebab yang Salah Nalar
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadi pergeseran maksud. Orang tidak menyadari bahwa yang dikatakannya itu adalah salah. Beberapa contoh salah nilai yang termasuk jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Matanya buta sejak beberapa waktu yang lalu. Itu tandanya dia melihat gerhana matahari total.
b.      Sejak ia memperhatikan dan membersihkan kuburan para leluurnya, dia hamil.
c.       Kalau ingin dikenal orang, kita harus memakai kacamata.
5)      Analogi yang Salah
Salah nalar dapat terjadi apabila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Beberapa contoh jenis salah nalar seperti ini adalah sebagai berikut.
a.       Sumini, seorang alumni Universitas Indonesia, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Tata, seorang alumni Universitas Indinesia, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
b.      Pada hari Senin, langit di sekolah barat menghitam, angin bertiup kencang, dan tidak lama kemudian turun hujan. Pada hari Selasa, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang, dan tidak lama kemudian turun hujan. Pada hari Rabu, langit sebelah barat menghitam, angin bertiup kencang. Hal ini menandakan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan.
6)      Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar ini adalah salah nalar yang disebabkan olwh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Dengan kata lain, sesuatu itu selalu dihubungkan dengan orangnya. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas keluarga berencana itu mempunyai anak enam orang.
b.      Kamu tidak boleh kawin dengan Verdo karena orang tua Verdo itu bekas penjahat.
c.       Dapatkah dia memimpin kita kalau dia sendiri belum lama bercerai dengan istrinya?
7)      Meniru-niru yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini adalah salah nalar yang berhubungan dengan snggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau atasan kita melakukan hal itu. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Peserta penataran boleh pulang sebelum waktunya karena para undangan yang menghadiri acara pembukaan pun sudah pulang semua.
b.      Siswa SMA seharusnya dibenarkan mempergunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika sebab profesor pun menggunakan kalkulator ketika menyelesaikan soal matematika.
8)      Penyamarataan Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil simpulan. Beberapa contoh salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut.
a.       Perkembangan sistem pelayaran kita dapat dibahas secara panjang lebar oleh Ahmad Panu, seorang tukang kayu yang terkenal itu.
b.      Pembangunan pasar swalayan itu sesuai dengan saran Toto, seorang ahli bidang perikanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar